Pokok-Pokok Pemikiran dan Wawasan Keagamaan KH. Ahmad Dahlan


kh ahmad dahlan

KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh pergerakan Islam yang lebih menyukai gerakan amal dalam melaksanakan perjuangannya dan tidak meninggalkan karya berupa tulisan/buku. Inilah keunikan yang dimiliki KH. Ahmad Dahlan dibanding tokoh-tokoh yang lain, keunikan yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan.

Gerakan amaliyah KH. Ahmad Dahlan menjadi kelebihan karena menjadi solusi kebutuhan mendesak umat Islam akan adanya upaya pemberdayaan umat untuk mengentaskan mereka dari kondisi kebodohan, kemiskinan dan penjajahan saat itu. Umat Islam butuh pioneer perjuangan untuk keluar dari jeratan penderitaan yang dialami, meskipun perjuangan tersebut tidak bisa bersifat instan karena masih dalam kondisi terjajah.

Di lain sisi, gerakan amaliyah KH. Ahmad Dahlan menjadi kelemahan terutama bagi kebutuhan generasi sekarang yang tidak bisa mengetahui secara pasti dan mendalam, bagaimana sebenarnya pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Dahlan terhadap banyak persoalan keumatan saat itu. Namun demikian kelemahan ini tidak mengurangi nilai perjuangan KH. Ahmad dahlan untuk umat Islam khususnya di Indonesia.

Meski tidak meninggalkan tulisan pemikiran, namun masih ada sedikit catatan tentang pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang dimuat dalam dokumen naskah terbitan Hoofbestuur Taman Pustaka pada tahun 1932. Menurut Majelis Pustaka, dokumen tersebut adalah pemikiran orisinil KH. Ahmad Dahlan yang isinya adalah :

  1. Pandangan KH. Ahmad Dahlan dalam bidang aqidah sejalan dengan pandangan ulama salaf

Ulama salaf yang dimaksud disini adalah mereka yang merupakan tiga generasi pertama umat Islam terdiri dari sahabat Nabi SAW, tabi’in dan tabi’ut tabi’in (wikipedia). Ini bisa diartikan bahwa KH. Ahmad Dahlan secara rigid menganut paham yang sejalan dengan paham aqidah yang dianut oleh tiga generasi muslim awal tersebut. Paham dimaksud adalah pemahaman aqidah seperti yang tertera dalam Al Qur’an dan Sunnah, pemahaman aqidah yang murni seperti termaktub dalam dua sumber hukum Islam tersebut, tanpa pengurangan dan penambahan.

Inilah yang menjiwai gerak langkah KH. Ahmad Dahlan dalam memimpin Muhammadiyah. Meski pernah ada kritik terkait dengan amaliyah ibadah (fikih) KH. Ahmad Dahlan yang konon katanya ternyata sama dengan yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam saat itu, namun tidak bisa dibantah bahwa semangat dan paham aqidah yang dianut KH. Ahmad Dahlan sangat berbeda dengan kebanyakan umat Islam di Jawa pada masa itu.

  1. Beragama adalah beramal. 

KH. Ahmad Dahlan lebih suka mempraktekkan ajaran-ajaran Al Qur’an dan Sunnah dari pada menulis atau sekedar menghafal saja. .Dengan kata lain, menjalankan Islam itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sebatas kata-kata, termasuk mengorbankan harta, benda untuk perjuangan Islam.

Inilah yang kemudian menjadi argumen pembenaran bagi langkah-langkah KH. Ahmad Dahlan yang lebih mengutamakan beramal nyata ketimbang menghabiskan waktu untuk menulis umpanya.

Amal-amal yang diwujudkan oleh KH. Ahmad Dahlan selain bersifat ibadah khusus dan individual, juga amal-amal sosial untuk mengatasi persoalan-persoalan umat Islam saat itu. Di kemudian hari, amaliyah tersebut dikenal dengan istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berwujud antara lain panti asuhan, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, poliklinik serta rumah sakit.

Maka saat ini, semangat beragama dengan beramal itulah yang menjadi salah satu ciri khas warga Muhammadiyah. Betapa bukan menjadi perkara yang memberatkan hati bagi sebagian besar warga Muhammadiyah jika harus berkorban waktu, tenaga dan harta benda untuk mendukung syiar agama dengan mendirikan AUM dalam berbagai bidang. Inilah yang sekian lama sering tidak dipahami oleh sebagian besar umat Islam lain di Indonesia, mengapa demikian mudah untuk membangun amal usaha bagi warga Muhammadiyah.

Mereka banyak yang belum memahami bahwa gen gemar beramal itulah yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan kepada para pengikutnya.

  1. Dasar Hukum Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah

Inilah dua hukum utama yang dipakai oleh KH. Ahmad Dahlan dalam meletakkan dasar bagi perjuangan Muhammadiyah. Jika dalam kedua dasar hukum tadi belum diketemukan hukumnya, maka menggunakan penalaran melalui ijtihad, sedangkan ijmak dan qiyas sebagai referensi.

  1. Dalam memahami Al Qur’an ditempuh 5 jalan yaitu :

Mengerti artinya

Memahami maksudnya

Selalu bertanya pada diri sendiri apakah larangan agama yang telah diketahui telah ditinggalkan

Apakah perintah agama yang dipelajari sudah dikerjakan

Tidak tergesa-gesa mencari ayat lain sebelum isi ayat sebelumnya dikerjakan

5. Bahwa tindakan nyata adalah wujud kongkrit dari penerjemahan Al Qur’an dan organisasi adalah wadah dari tindakan nyata tersebut. 

Untuk memperoleh pemahaman demikian, orang Islam harus selalu memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran dengan logika. Inilah perbedaan KH. Ahmad Dahlan dengan sebagian besar umat Islam saat itu bahwa KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat terbuka, mau menerima pembaharuan sepanjang itu sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah, logis dan membawa kemashlahatan bagi umat. Suatu hal yang tidak terdapat dalam diri para tokoh umat Islam saat itu di Jawa khususnya.

Para pemuka agama Islam saat itu lebih suka mengajarkan sebagai suatu warisan pusaka yang keramat, hanya pantas untuk dibicarakan, disanjungkan tanpa penerapan kongkrit dalam kehidupan sehari-hari, apalagi untuk memecahkan persoalan umat Islam yang sangat berat dan kompleks.

6. Sesuai dengan dasar pemikiran bahwa seseorang itu perlu suka dan bergembira, maka orang tersebut harus yakin bahwa mati adalah bahaya, akan tetapi melupakan kematian adalah bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu sendiri.

7. Kunci persoalan kehidupan adalah peningkatan kualitas hidup dan kemajuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat

8. Pembinaan generasi muda (kader) dengan jalan interaksi langsung

9. Strategi menghadapi perubahan sosial akibat modernisasi adalah merujuk kembali kepada Al Qur’an, menghilangkan sikap fatalisme dan taqlid.

Fatalisme dan taqlid inilah yang menjadi penghambat seseorang atau kelompok masyarakat untuk menerima perubahan/pembaharuan. Apalagi jika sudah menyangkut urusan agama, satu hal fundamental bagi orang Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *