Sejarah Berdirinya Muhammadiyah (Bagian I)


muhammadiyah

Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah

Muhammadiyah selama ini sering disalahpahami oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai

muhammadiyah
Foto KH. Ahmad Dahlan beserta Pengurus Besar Muhammadiyah di awal-awal berdirinya Muhammadiyah

sebuah aliran atau bahkan “agama baru” yang berbeda dengan “Islam” seperti yang mereka pahami. Hal ini bisa dimengerti karena dalam masyarakat sudah mengakar pemahaman bahwa Islam adalah seperti yang mereka jalani sehari-hari, tidak ada yang lain. Disokong oleh doktrinasi yang turun-temurun diterima, maka pemahaman tersebut menancap begitu kuatnya dalam masyarakat. Padahal jika ditilik dari sejarah aslinya, maka Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan justru berawal dari pemahaman beliau terhadap Al Qur’an yang menjadi sumber hukum pertama dan utama Islam. Berikut latar belakang didirikannya Muhammadiyah :

  1. Muhammadiyah didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan karena pendalaman Beliau terhadap Al Qur’an 

Salah satu ayat Al Qur’an yang menginspirasi perjuangan KH. Ahmad Dahlan adalah Surat Ali Imron ayat 104.

Ayat di atas dipahami oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai perintah untuk mendirikan organisasi untuk memecahkan permasalahan-permasalahan umat Islam.

2. Maraknya TBC di masyarakat

Ahmad Dahlan melihat bahwa pelaksanaan ajaran-ajaran Islam oleh umat Islam sendiri sudah banyak menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Penyimpangan ini berupa maraknya Tahayul, Bid’ah dan Churofat (TBC) dalam kehidupan beragama umat Islam Indonesia sehari-hari. TBC telah menyebabkan kehidupan umat Islam Indonesia menjadi tidak berkembang dan tertinggal karena umat Islam lebih fokus dalam dalam melaksanakan tradisi-tradisi yang tidak diajarkan dalam syari’at Islam dan tercemari kepercayaannya. Lalu apa itu TBC ?

  • Tahayul :

Kata tahayul berasal dari bahasa Arab, al-tahayul yang bermakna reka-rekaan, persangkaan, dan khayalan. Sementara secara istilah, tahayul adalah kepercayaan terhadap perkara ghaib, yang kepercayaan itu hanya didasarkan pada kecerdikan akal, bukan didasarkan pada sumber Islam, baik al-Qur’an maupun al-hadis.

Contoh dari tahayul antara lain percaya kepada benda-benda seperti keris, tombak, jimat dan lain-lain mempunyai tuah (manfaat) untuk sesuatu. Atau bisa juga percaya bahwa benda-benda tersebut bisa mencelekai seseorang karena kekuatan benda-benda tersebut. Percaya terhadap makhluk-makhluk halus jin dan setan mampu memberi manfaat atau madharat (kecelakaan/kesialan) bagi manusia.

  • Bid’ah :

Arti bid’ah menurut bahasa ialah segala macam apa saja yang baru, atau mengadakan sesuatu yang tidak berdasarkan contoh yang sudah ada. Sedangkan arti bid’ah secara istilah adalah mengada-adakan sesuatu dalam agama Islam yang tidak dijumpai keteranganya dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.

Macam-macam bid’ah

Bila dilihat dari segi ushul fikih (kaidah-kaidah hukum Islam) bid’ah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1)   Bid’ah dalam ibadah saja, yaitu segala sesuatu yang diada-adakan dalam soal ibadah kepada Allah swt yang tidak ada contohnya sama sekali dari rasulullah baik dengan cara mengurangi atau menambah-nambah aturan yang sudah ada. Contoh melakukan sholat dhuhur 5 rakaat, padahal aturannya 4 rakaat.

2)  Bid’ah meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah, aqidah maupun adat. Perbuatan yang diada-adakan itu seakan-akan urusan agama, yang dipandang menyamai syari’at Islam, sehingga mengerjakanya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri. Contoh adalah tradisi tahlilan, yasinan dan nyadran yang merupakan tradisi sudah dianggap sebagai suatu ibadah. Karena sudah mendarah daging bahkan banyak yang mewajibkan tradisi tahlilan sebagai satu rangkaian prosesi yang harus dilakukan ketika ada kematian.

  • Khurafat

Kata khurafat berasal dari bahasa arab: al-khurafat yang berarti dongeng, legenda, kisah, cerita bohong, asumsi, dugaan, kepercayaan dan keyakinan yang tidak masuk akal, atau akidah yang tidak benar. Mengingat dongeng, cerita, kisah dan hal-hal yang tidak masuk akal di atas umumnya menarik dan mempesona, maka khurafat juga disebut “al-hadis al-mustamlah min al-kidb”, cerita bohong yang menarik dan mempesona.

Sedangkan secara istilah, khurafat adalah suatu kepercayaan, keyakinan, pandangan dan ajaran yang sesungguhnya tidak memiliki dasar dari agama tetapi diyakini bahwa hal tersebut berasal dan memiliki dasar dari agama. Dengan demikian, bagi umat Islam, ajaran atau pandangan, kepercayaan dan keyakinan apa saja yang dipastikan ketidakbenaranya atau yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadis nabi, dimasukan dalam kategori khurafat.

3. Tidak ada lembaga pendidikan Islam yang memadai

Kondisi umat Islam baik di Indonesia dan dunia saat itu secara umum dapat  digambarkan dalam kondisi mengenaskan terjajah, miskin dan bodoh. Lembaga pendidikan milik umat Islam yang mengajarkan ilmu umum dan agama belum ada.  Oleh karena itu, KH. Ahmad Dahlan kemudian mencetuskan ide mendirikan madrasah diniyah Islamiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama tapi juga ilmu-ilmu umum. Ini adalah ide yang tidak lazim pada zamannya, dianggap sebagai “ide gila” dan mengikuti cara-cara penjajah Belanda dalam menjalankan lembaga pendidikan karena sudah terpatri dalam pemahaman umat Islam saat itu bahwa madrasah hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, “haram” mengajarkan ilmu-ilmu umum.

4. Kelemahan kepemimpinan Islam

Kelemahan kepemimpinan umat Islam saat itu dapat dilihat dari mayoritas negara-negara Islam saat itu dalam kondisi terjajah. Tidak ada persatuan diantara pemimpin-pemimpin dunia Islam, terlebih dengan berakhirnya masa kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) yang menjadi pemerintahan terakhir yang menyatukan dunia Islam pada tahun 1924 semakin memperlemah kekuatan umat Islam. Kondisi tersebut melengkapi penderitaan umat Islam saat itu yang sudah kalah dalam segala hal oleh bangsa-bangsa Eropa

5. Meningkatnya misi agama lain ke Indonesia

Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia sampai saat ini, namun kondisi tersebut mendapat tantangan berupa misi penyebaran agama lain (nasrani) yang menyasar umat Islam sebagai obyek agar berpindah/keluar dari agama Islam. Fakta ini mungkin tidak mengenakkan bila dibicarakan dalam ranah kerukunan antar umat beragama, tapi demikianlah adanya yang terjadi, para misionaris berusaha menyebarkan agamanya dengan menyasar umat Islam yang nota bene sudah beragama. Adanya penjajahan Belanda saat itu memberi dukungan luar biasa terhadap misi penyebaran agama nasrani. Kondisi ini mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk membendungnya dengan melakukan gerakan-gerakan sosial untuk menyelamatkan aqidah umat Islam saat itu.

6. Tekanan dunia Barat terutama Belanda ke Indonesia

Belanda datang ke Indonesia yang pada masa lalu masih terdiri dari  kerajaan/kesultanan yang berdiri sendiri-sendiri. Misi kedatangan Belanda jelas melakukan penjajahan, sama seperti yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa lainnya dengan semboyannya Gold, Glory dan Gospel. Karena misinya adalah penjajahan, maka tekanan demi tekanan dialami oleh bangsa Indonesia baik secara lahir maupun batin. Pendudukan, perampasan kekayaan alam, disertai dengan kekerasan oleh penjajah saat itu melahirkan perlawanan-perlawanan dari bangsa Indonesia. Perlawanan-perlawanan tersebut sebelum abad ke-20 berupa perjuangan secara fisik dengan peperangan, namun memasuki abad ke-20 muncul perlawanan non fisik berupa mendirikan organisasi baik politik, sosial maupun keagamaan dari banyak tokoh pelopor pergerakan nasional saat itu. KH. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh yang merintis perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk memberdayakan umat Islam saat itu yang dalam kondisi lemah, miskin dan terjajah.

  1. Pengaruh dari gerakan pembaharuan dalam dunia Islam

Abad ke 18-20 adalah masa awal munculnya gerakan pembaharuan Islam di berbagai belahan dunia Islam sebagai respon terhadap kondisi umat Islam yang terpuruk dalam penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa saat itu. Gerakan pembaharuan ini berawal dari Timur Tengah dan bertujuan untuk menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam sehingga kekuatan dan kepercayaan diri umat Islam bisa pulih. Gerakan pembaharuan ini menyebar luas melalui interaksi umat Islam dan sampai ke Indonesia salah satunya dibawa oleh KH. Ahmad Dahlan yang mendapat inspirasi gerakan pembaharuan ini saat menjalankan ibadah haji serta belajar di Arab Saudi. Semangat pembaharuan tersebut dibawa dan diterapkan oleh KH. Ahmad Dahlan di kampung halamannya dengan mendirikan organisasi Muhammadiyah.

Situs rujukan :

  1. muhammadiyah.or.id
  2. wikipedia indonesia
  3. studi-islam3.website 
  4. pwmjateng.com
  5. pwmu.co
  6. suryagemilangnews.com

Buku rujukan :

Sejarah Islam dan Kemuhammadiyahan, P3SI Universitas Muhammadiyah Magelang. Penyusun dan editor : Agus Miswanto, MA. M.Zuhron Arofi, M.Pd.I,. 2012.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *