Sikap Muhammadiyah Terhadap Gerakan Islam Transnasional


gerakan salafi

Kemuhammadiyahan.com. Gerakan Islam transnasional adalah gerakan Islam yang berasal dari luar Indonesia. Trans = antar, nasional = bangsa. Mulai muncul sejak awal dekade 80an ditandai dengan meningkatnya semangat mempelajari Islam di masyarakat terutama anak muda (mahasiswa), kalangan pemerintahan, pebisnis dan organisasi masyarakat. Setelah orde baru tumbang tahun 1998, gerakan transnasional tersebut semakin berkembang pesat, muncul organisasi-organisasi Islam baru yang disebut sebagai Gerakan Islam Baru (New Islamic Movement).

Perkembangan Pemikiran Islam Transnasional

Gerakan/organisasi Islam baru itu antara lain gerakan Salafi, Hizbut Tahrir Indonesia, gerakan Tarbiyah dan Jamaah Tabligh. Pemikiran gerakan Tarbiyah sangat dekat dengan Ikwanul Muslimin (IM) di Mesir bahkan menyebut dirinya dengan “anak ideologis” Ikhwanul Muslimin. Sedangkan Hizbut Tahrir Indonesia secara resmi merupakan cabang dari Hizbut Tahrir Internasional yang berpusat di Yordania. Sementara Salafi adalah himpunan para aktifis yang berjejaring dengan gerakan Salafi di Timur Tengah khususnya Arab Saudi dan Kuwait. Jamaah Tabligh adalah gerakan non politik yang pendirinya, Maulana Syaikh Muhammad Ilyas Khandalawi berasal dari India.

Persebaran Pemikiran Keislaman Timur Tengah ke Indonesia

Penyebaran gerakan/organisasi transnasional di atas umumnya karena perkenalan/persinggungan aktifisnya dengan tokoh-tokoh di Indonesia entah lewat kampus ataupun penyebaran langsung. Ikhwanul Muslimin contohnya masuk melalui lembaga-lembaga dakwah kampus kemudian berkembang menjadi Gerakan Tarbiyah dan bahkan akhirnya kini menjelma menjadi partai politik yaitu Partai Keadilan Sejahtera.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyebar melalui aktifisnya dari Libanon yaitu Abdurrahman al-Baghdadi dan Muhammad Mustafa yang merupakan alumni perguruan tinggi di Yordania. Mereka yang mengenalkan dan menyebarkan faham yang dianut HTI di kalangan kampus. Abdurrahman al-Baghdadi bahkan merupakan orang yang membuka jalan bagi para aktifis HTI ke jaringan Hizbut Tahrir Internasional.

Gerakan Salafi berkembang melalui LIPIA (Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Sa’ud Riyadh Arab Saudi. Gerakan ini dimaksutkan untuk menyebarkan pemikiran Salafi di Asia Tenggara khususnya Indonesia. Kurikulum di LIPIA mengadopsi kurikulum di kampus induknya tersebut dan bahkan para pengajarnya didatangkan dari Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.


Macam-Macam Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

  1. Gerakan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin)

Awalnya merupakan konsep sistem pembinaan yang diterapkan di Ikhwanul Muslimin (IM). Secara bahasa tarbiyah punya arti pendidikan yang dimaknai pendidikan dalam arti formal dan informal. Dalam konsep IM tarbiyah mengandung pengertian cara ideal berinteraksi dengan fitrah manusia baik langsung (kata-kata) maupun tidak (keteladanan) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

IM didirikan di Mesir tahun 1928 oleh Hasan al Banna dengan tujuan membentuk dan menjalin ikatan persaudaraan antar sesama muslim di bawah penerapan hukum-hukum Islam dalam sebuah Daulah Islamiyah dengan berpedoman pada Al Qur’an dan Hadist. Untuk mewujudkan tujuan itu, IM melakukan bimbingan terhadap pribadi, keluarga dan masyarakat hingga berusaha menegakkan kembali kekhalifahan. Kekhalifahan dimaksutkan untuk menyatukan seluruh umat Islam di dunia dengan menegakkan syariah lewat dakwah.

Gerakan ini berpengaruh dan memunculkan gerakan-gerakan serupa di berbagai belahan dunia Islam yang intinya tidak memisahkan persoalan agama dan politik, meskipun di Mesir sendiri sempat dilarang.

Di Indonesia kemunculan gerakan tarbiyah ini di Indonesia tidak bisa lepas dari IM di Mesir. Masuk ke Indonesia awal tahun 1980-an melalui gerakan dakwah kampus di ITB, IPB, UI, UGM, Unair, Unhas dan Unibraw. Awal masuk ke Indonesia berupa pengajian dan pembinaan khusus dalam kelompok kecil 5-10 orang (liqa’) dengan menggunakan materi dan metode dari IM.

Saat reformasi 1998 para aktifis gerakan ini mendirikan Partai Keadilan yang pada tahun 2004 berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sampai sekarang masih ada. PKS menjadikan tarbiyah sebagai bentuk pembinaan dan perekrutan anggotanya, sehingga gerakan tarbiyah tidak bisa dilepaskan dari PKS dan juga sebaliknya.

Gerakan ini awalnya tidak jadi masalah bagi Muhammadiyah, namun dalam perkembangannya ternyata banyak memakai fasilitas Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk gerakan mereka. Ini mendorong Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan nomor 149/2006 yang diperkuat dengan edaran nomor 2/2007 yang intinya bahwa PKS adalah sebuah partai politik yang mempunyai sifat yang sama dengan partai lain dan PP Muhammadiyah mengingatkan jajaran pimpinan persyarikatan dan AUM untuk tidak memberi izin penggunaan fasilitas Muhammadiyah sebagai kegiatan parpol.

2. Hizbut Tahrir Indonesia

Adalah cabang Hizbut Tahrir yang berpusat di Yordania didirikan oleh Taqiyyudin an-Nabhani seorang aktifis, hakim segaligus guru di al-Quds Talquds Palestina tahun 1952. Gerakan ini menginginkan masyarakat yang Islami dan jauh dari pengaruh imperialisme. Tujuan mereka adalah tegaknya kehidupan Islami dengan terlebih dahulu mendirikan negara Islam. Karena itu gerakan ini mengembangkan ajaran Pan Islamisme yang artinya persatuan Islam dengan cita-cita mendirikan Khilafah Islamiyah (negara Islam) secara internasional yang berkiblat di Yordania.

Secara bahasa Hizbut Tahrir berarti partai pembebasan, secara istilah merupakan sebuah partai politik yang menghendaki adanya kemerdekaan atau pembebasan masyarakat dari adanya dampak buruk budaya barat terhadap akhlaq, budaya dan moral masyarakat khususnya umat Islam.

Untuk melawan dominasi barat dan mewujudkan negara Islam secara internasional maka Hizbut Tahrir mengembangkan jaringan ke banyak negara meliputi Arab, Eropa dan Asia Tenggara.

Menurut Hizbut Tahrir (HT) amar ma’ruf nahi mungkar adalah tugas negara sehingga sudah wajib hukumnya untuk mendirikan negara Islam tak terkecuali di Indonesia.

Pemikiran HTI tersebut tentu berbeda dengan Muhammadiyah yang masih menempatkan hukum, undang-undang, falsafah negara Indonesia menjadi bagian kepribadiannya. Selain itu para tokoh Muhammadiyah juga termasuk para tokoh yang memperjuangkan berdirinya negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) dan menyebut Indonesia sebagai Daarul Ahdi Wa Syahadah (negara konsensus/kesepakatan bersama yang harus dijaga)

3. Jamaah Tabligh (JT)

Jama’ah Tabligh (JT) adalah gerakan non politik yang didirikan oleh Maulana Syaikh Muhammad Islyas Khandalawi dari India pada tahun 1920. Gerakan ini awalnya menyerukan untuk menyelamatkan umat Islam di India dari Kristenisasi yang dilakukan Inggris, penjajah India saat itu. Kemunculannya saat itu juga dilatarbelakangi kekhawatiran Khandalawi terhadap keadaan umat Islam India yang telah keluar dari ajaran Islam sesungguhnya.

JT memilih jalan damai dan memilih tidak terjun dalam bidang politik untuk menghindari kontrontasi. Metode dakwah JT diantaranya adalah khuruj yaitu keluar melakukan dakwan dengan peralatan hidup yang sangat sederhana. Selain itu ada jaulah yaitu dakwah yang dilakukan dengan berkunjung ke rumah-rumah untuk menyebarkan ajaran Islam , mengajak beribadah ke masjid sekaligus meyambung silaturahmi.

Materi dakwah JT meniadakan nahi mungkar karena menurut mereka umat Islam saat ini masih dalam kondisi pembentukan kehidupan yang Islami. Disamping itu mereka juga berpandangan bahwa taklid kepada imam mazham adalah keharusan sebabpada saat ini belum ada ulama yang memenuhi kriteriah sebagai mujtahid, oleh karena itu mereka melarang anggotanya melakukan ijtihad.

Para pengikut JT harus baiat kepada syaikhnya dan menghormatinya sebagaimana umat Islam menghormati Rosululloh. Penerima dakwah tidak terkait dengan struktur organisasi dan ajarannya mengarah pada tasawuf, hidup sederhana, menolak menghadiri walimahan dan senang berdzikir di komplek makam.Di Indonesia anggotanya sangat bervariasi ada yang seniman, profesional dan lain-lain.

Pemikiran JT berbeda dengan Muhammadiyah antara lain mereka menganjurkan mengikuti imam mazhab, sementara Muhammadiyah tidak, mereka menganjurkan berbaiat kepada syaikh di Muhammadiyah tidak boleh. Mereka menghormati syaikhnya seperti menghormati Rosululloh, di Muhammadiyah tidak diperkenankan demikian.

*Materi ini dikutip dari buku “Pendidikan Kemuhammadiyahan SMK/SMK/MA Muhammadiyah Kelas 12” terbitan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, penulis : Siti Khoiriyah, S.PdI. dan Ardhi Kurniawan. Dikutip untuk kepentingan pembelajaran PKM.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *